Bahas Nasib Impor KRL Bekas Jepang, Bos KAI ke Kantor Luhut

Didiek Hartantyo/Doc.PT KAI

Direktur Utama PT KAI (Persero) Didiek Hartantyo terpantau memenuhi undangan rapat dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, pada hari ini, Senin (6/3/2023).

Adapun alasan kedatangannya, salah satunya untuk membahas lebih lanjut mengenai impor kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang, untuk memenuhi kebutuhan replacement kereta yang sudah harus dipensiunkan, atau tidak digunakan lagi. Hal ini dibenarkan Direktur Teknik PT Kereta Commuter Indonesia Denny Haryanto.

“”Ya, rapat. Salah satunya mengenai impor KRL,” katanya kepada CNBC Indonesia, Senin (6/3/2023).

Untuk diketahui, impor KRL bekas dari Jepang sampai saat ini masih tertahan. Alasannya, dua kementerian saling sikut yaitu Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Kemenhub mengatakan yes dan menyetujui rencana KCI. Mereka sudah memberikan rekomendasi izin impor kepada Kementerian Perdagangan pada 19 Desember 2022. Sedangkan Kemenperin menolak impor dengan alasan kebutuhan kereta api harus dipenuhi dari produksi dalam negeri, dalam hal ini diproduksi oleh PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA.

Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati mengungkapkan impor KRL bekas Jepang sangat realistis. Pasalnya ada 16 train set KRL Jabodetabek yang harus dipensiunkan pada 2023 dan 2024. Faktor usia sarana, kebutuhan pengadaan muncul untuk mengakomodasi pertumbuhan penumpang.

“Sehingga, sarana KRL bukan baru menjadi pilihan yang bijak menurut kami, sembari menunggu proses produksi dari INKA selesai. Tentu kami dari Kemenhub sangat mendukung pengadaan sarana produksi dalam negeri untuk memajukan industri kita sehingga kami pun sangat mengapresiasi langkah KCI yang sudah meneken MoU dengan INKA untuk pengadaan ini,” sebutnya.

Berbeda dengan Kemenhub, Kemenperin justru sebaliknya. Kemenperin menolak impor KRL bekas dengan alasan kebutuhan kereta api harus dipenuhi dari produksi dalam negeri, dalam hal ini diproduksi oleh PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA.

“PT Industri Kereta Api (INKA) bisa membuat itu semua, kenapa kita harus impor gerbong kereta api bekas dari Jepang. Katanya bangga beli buatan Indonesia. Bangladesh saja membeli produk kereta kita sampai Rp 1,3 triliun,” tegas Sekretaris Jenderal Kemenperin Dody Widodo.

Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai ada harga yang harus dibayar mahal jika impor kereta ini sampai terlambat, yakni nasib para penumpang yang bisa terkatung-katung karena kurangnya armada.

“Kalau gak boleh (diizinkan impor) kemungkinan dua, pertama kereta lama gak dioperasikan, kedua dioperasikan. Kalau gak dioperasikan makin banyak penumpang yang terlantar, kalau dioperasikan keselamatan siapa yang mau jamin? kan barangnya udah usang, khawatir patah lah anjlok,” timpal Djoko.

Djoko bilang apabila impor KRL bekas tak dilakukan, maka dampaknya bisa mengerikan. Jumlah penumpang KRL yang membludak ditakutkan terlantar yang bikin suasana stasiun semakin padat. Kalaupun menggunakan KRL yang harusnya dipensiunkan, maka risikonya bisa berbahaya bagi penumpang.

“Kondisi sudah kritis, kan takut. Kalau dipakai Kemenperin harus tanggung jawab pada kecelakaan, mau dia tanggung jawab? atau kalau gak digunakan, sekarang aja kapasitas sudah mangkit-mangkit, apalagi tambah masalah Manggarai,” sebutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*