Diduga Preman Halangi Bangun Jalan, Sentul City Buka Suara!

Perbaikan Jalan Sentul. (CNBC Indonesia/Sandi)

PT Sentul City Tbk (BKSL) buka suara terkait insiden kasus penyetopan perbaikan jalan yang dilakukan warga setempat di Desa Bojong Koneng, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, oleh pihak yang diduga sebagai preman.

Kejadian ini terjadi pada Sabtu dan Minggu (14-15/5/2023), warga menganggap bahwa jalan itu adalah jalan desa https://kecoak123.shop/ yang tertera dalam sertifikat BPN, bukan jalan Sentul City sehingga tak ada alasan untuk menghalangi pembangunan jalan.

Manajemen mengklarifikasi bahwa pihak yang melakukan penyetopan pembangunan jalan oleh warga memang dari Sentul City. Manajemen menolak anggapan bahwa orang-orang yang menyetop di lapangan disebut sebagai preman.

“Nggak ada. Sentul city ada siber kita yang tiap hari muter diem-diem awasin wilayah, kita luas sekali wilayah kita, bukan preman (tapi) karyawan kita,” kata Kepala Administrasi Perizinan dan Sertifikasi Sentul City Sejuk Karyanto di Sentul City, Senin (22/5/23).

Pada 14 Mei 2023 ada sekitar 5 orang yang mencoba menyetop pembangunan jalan desa. Namun, satu hari setelahnya atau 15 Mei 2023, hadir belasan orang yang menyetop pembangunan jalan, namun tidak menggunakan seragam dari Sentul City. Ketika diminta surat tugas resmi, orang-orang tersebut tidak bisa menunjukkan buktinya. Namun, Sentul City beralasan bahwa ada alasan yang melatarbelakangi itu.

“(Yang menyetop pembangunan jalan) Itu dari kita. [Ngga ada surat tugas?] Kita surat tugas, sebenarnya karyawan kita tiap hari sudah melekat di semuanya. Nggak mungkin saya kerja tiba-tiba lupa ada yang nyerobot, nggak mungkin saya tiba-tiba balik minta tugas, jadi¬†on the spot¬†langsung,” ujar Sejuk.

Adapun alasan Sentul City melakukan penyetopan pembangunan jalan karena perusahaan mengklaim bahwa secara administrasi di internal jalan itu merupakan Hak Guna Bangunan (HGB) dari Sentul City. Selain itu, beberapa titik tanah juga merupakan milik perusahaan, termasuk sebuah pesantren yang berada di dekat lokasi.

“Kalau jalan itu ada, memang jalan itu dulunya diberikan izin peminjaman kepada pesantren. Jadi dari pihak pesantren menyatakan, mengakui itu bukan tanahnya, Dengan arti kata itu HGB Sentul city. Itu bukan jalan desa, dulu adalah HGB kita, pelepasan PTPN XI dengan Hak Guna Usaha (HGU) dulu, sekarang jadi pemilik kita, jadi HGB,” sebut Sejuk.

Polemik Status Jalan Desa

Polemik ini muncul setelah warga Bojong Koneng, Babakan Nadang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat melakukan perbaikan jalan terhadap jalan desa di area tempat tinggalnya. Area jalan ini terlihat masih berbatu, namun warga berupaya agar jalan desa ini bisa dilalui nyaman meski harus menggunakan kocek pribadi.

Salah satu warga yakni Sutrisno Iwantono mengungkapkan bahwa warga tidak masalah harus menggunakan kocek pribadi untuk memperbaiki jalan sepanjang 150m dan lebar 3 m. Pasalnya ini merupakan jalan yang digunakan untuk kepentingan umum.

“Ini merupakan jalan desa, keterangan dari sertifikat negara juga jalan desa,” katanya.

Ia mempertanyakan ada upaya mencegah warga untuk urunan memperbaiki jalan. Padahal, warga bukan tengah memperbaiki jalan yang dimiliki oleh developer. Pantauan di aplikasi Sentul Tanahku yang dimiliki Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN, jalan ini merupakan wilayah jalan desa.

Selain itu, sejak beberapa bulan lalu warga pun sudah menyampaikan surat permohonan izin atau pemberitahuan kepada Kepala Desa setempat untuk memperbaiki jalan.

Dalam surat tersebut, warga menyampaikan nomor telepon yang bisa dihubungi jika ada hal yang dibicarakan, termasuk jika memungkinkan adanya bantuan pemberian material atau hal lain.

“Namun kami tidak mendapat feedback apapun, tidak dilarang juga, artinya pembangunan boleh jalan dan nggak boleh ada yang melarang,” kata Iwantono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*