Ini Efek Ngeri RI Batal Tuan Rumah Piala Dunia U-20 FIFA

Seorang wanita berjalan melewati spanduk untuk turnamen sepak bola Piala Dunia FIFA U-20 Indonesia 2023 di Jakarta pada 30 Maret 2023. - FIFA mengumumkan pada 29 Maret telah menghapus Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun ini di tengah kekacauan politik atas Israel partisipasi. (ADEK BERRY/AFP via Getty Images)

Dibatalkannya status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 FIFA menghasilkan sejumlah kerugian hingga triliunan rupiah. Orang-orang yang kecewa akibat pembatalan ini pun terpantau masih menumpahkan ‘tangis’ dan kekesalannya di jagad maya, seperti Twitter.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengungkapkan, salah satu kerugian terbesar akibat batalnya terselenggara Piala Dunia U-20 2023 FIFA di Indonesia adalah minimal senilai Rp3,7 triliun. Ia menjelaskan, angka tersebut adalah kerugian dari potensi kunjungan wisatawan.

“Minimal dampaknya itu mencapai Rp 3,7 triliun, ini kerugian yang sangat besar,” kata Sandiaga kepada Wartawan di Lido, dikutip Sabtu (1/4/2023).

Tidak hanya itu, terdapat sederet kerugian RI lainnya akibat pembatalan penyelenggaraan Piala Dunia U-20 2023 FIFA di RI. Berikut daftar kerugian yang ditanggung Indonesia karena gagal menjamu para peserta Piala Dunia U-20.

Triliunan Habis untuk Persiapan

Dalam mempersiapkan Piala Dunia U-20 2023 FIFA, pemerintah daerah DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali, Solo, Surabaya, dan Palembang sudah mengeluarkan banyak uang dan tenaga agar dapat menjadi tuan rumah sesuai standar FIFA.

Pada Juli 2020 lalu, pemerintah menggelontorkan dana Rp400 miliar untuk persiapan Piala Dunia U-20 2023 FIFA. Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) yang ditugaskan merenovasi dua stadion utama dan 15 lapangan latihan juga mengeluarkan anggaran sebesar Rp 314,82 miliar.

Lalu, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) juga mengalokasikan dana sebesar Rp500 miliar demi persiapan Piala Dunia U-20 2023 FIFA. Dengan demikian, total kerugian dari gagalnya pelaksanaan Piala Dunia U-20 2023 FIFA bisa mencapai Rp1,4 triliun.

Potensi Hilang dari Kunjungan Pariwisata

Perhelatan Piala Dunia pasti akan mendatangkan banyak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Kunjungan wisman akan melonjak karena banyaknya jumlah tim yang bermain, ofisial, staf tim nasional peserta, hingga pendukung.

Peserta Piala Dunia U-20 tercatat sebanyak 24 tim nasional (timnas). Dengan jumlah yang tim cukup besar maka kunjungan wisman pun dipastikan akan besar pula.

Bila berkaca pada pergelaran Asian Games 2018, kunjungan wisman menjadi salah satu nilai plus untuk Palembang, Sumatra Selatan. Bahkan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) memproyeksi nilai keuntungan dari Asian Games mencapai Rp40 triliunan.

Bersama Jakarta, Palembang adalah salah satu tuan rumah Asian Games 2018 yang diselenggarakan pada 18 Agustus-2 September 2018 lalu. Tercatat, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia pada Agustus 2018 mencapai 1,51 juta, naik 8,44 persen dibandingkan Agustus 2017.

Bisnis Hotel

Event olahraga ataupun musik dalam skala besar akan menjadi pundi-pundi keuntungan bagi bisnis hospitaliti, terutama hotel.

Hotel akan mendapatkan keuntungan dalam bentuk peningkatan pemesanan tamu hingga sewa ruang untuk meeting atau sekedar pertemuan antar ofisial atau pendukung.

Keuntungan bisnis hospitaliti pun juga sudah pernah dirasakan Indonesia saat jadi tuan rumah Asian Games. Data BPS mencatat, Asian Games 2018 berpengaruh besar ke tingkat hunian kamar hotel. Angkanya naik dari bulan Juli 2018 yang hanya 59,30 persen menjadi 60,01 persen pada Agustus 2018.

Rata-rata lama menginap tamu asing juga tercatat tinggi, yaitu selama 2,69 hari jika dibandingkan dengan rata-rata lama menginap tamu Indonesia yang hanya 1,75 hari.

Dari 34 provinsi di Indonesia, rata-rata lama menginap paling lama untuk tamu asing pada Agustus 2018 tercatat di Provinsi Sumatra Selatan, yaitu sebesar 5,42 hari.

Timnas Indonesia U-20 Gagal Bermain dan Terancam Sanksi FIFA

Dua generasi tim nasional (timnas) Indonesia U-20 dipastikan gagal bermain di Piala Dunia U-20 melalui status tuan rumah. Pertama generasi Bagus Kahfi dan kawan-kawan yang disiapkan untuk tampil di Piala Dunia U-20 2021 yang batal karena pandemi.

Setelah itu generasi Muhammad Ferarri dan kawan-kawan yang disiapkan untuk tampil di edisi 2023. Kedua tim itu sama-sama ditangani pelatih Shin Tae Yong.

Piala Dunia U-20 2023 seharusnya menjadi kali kedua Indonesia tampil di salah satu turnamen bergengsi FIFA itu. Kali pertama Indonesia bermain di Piala Dunia U-20 terjadi pada 1979 di Jepang.

Tidak hanya hancurnya mimpi para pemain Garuda Muda dan kehilangan status sebagai tuan rumah, Indonesia juga terancam mendapat sanksi FIFA akibat Piala Dunia U-20 2023. Dalam pernyataan resminya, FIFA mengatakan bahwa sanksi untuk Indonesia akan dibahas lebih lanjut.

“Tuan rumah baru akan diumumkan sesegera mungkin dengan tanggal turnamen saat ini yang tetap tidak berubah. Potensi sanksi terhadap PSSI juga dapat diputuskan pada tahap selanjutnya,” bunyi pernyataan resmi FIFA, dikutip Sabtu (1/4/2023).

Sebelumnya, Piala Dunia U-20 2023 Indonesia resmi dibatalkan oleh FIFA. Kabar dibatalkannya status Indonesia sebagai tuan rumah diungkapkan FIFA melalui laman resminya, Rabu (29/3/2023) malam

Tagar Twitter

Akibat kekecewaannya, para pemain pun ramai-ramai ‘menyerbu’ Ganjar melalui kolom komentar unggahan akun Instagram pribadi Ganjar (@ganjar_pranowo).

“Halo pak, terima kasih yaaa sudah mengubur mimpi anak-anak muda di INDONESIA yang sudah berlatih dari kecil hingga mendapatkan kesempatan untuk membela negaranya di piala dunia dan bapak patahkan gitu aja hehehe. Doa terbaik untuk bapak,” tulis gelandang timnas Indonesia U-20 kepada Ganjar, Frezy Al Hudaifi (@frezyalhudaifi).

Tidak hanya para pemain Garuda Muda, para warganet pun kompak mengungkapkan kekecewaannya terhadap peristiwa batalnya Indonesia menjadi Piala Dunia U-20 2023. Salah satu kekecewaan tersebut diungkapkan melalui tagar #KamiSudahBerkorban di Twitter.

Melalui tagar #KamiSudahBerkorban, warganet Indonesia kompak menunjukkan solidaritas kekecewaan dan keprihatinannya kepada setiap pihak yang terlibat dalam persiapan Piala Dunia U-20 2023, termasuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Ga cuma mereka aja si yang kecewa, tapi juga dampaknya ke UMKM yang udah pada buat merchandise yang bertema pildun U-20. Sangat disayangkan sih karena ga jadi diselenggarakan #KamiSudahBerkorban,” tulis salah satu warganet (@ichaakart**__), dikutip Sabtu (1/4/2023). CNBC Indonesia mengutip twit tersebut atas seizin pemilik akun.

Sedih kecewa pildun ga jadi di Indonesia padahal masyarakat udah antusias dan perjuangan para pemain timnas buat pildun U-20 di Indonesia sia sia #KamiSudahBerkorban,” ujar warganet lainnya melalui Twitter (@kudi**_).

Ganjar & Koster Buka Suara

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Bali I Wayan Koster akhirnya ikut buka suara terkait batalnya Indonesia menjamu para peserta Piala Dunia U-20 2023. Diketahui, kedua kepala daerah itu adalah sosok yang menolak kedatangan tim nasional (timnas) Israel ke Indonesia.

“Ya, kecewa, lah. Wong kita sudah menyiapkan sejak awal, kok,” ucap Ganjar, dikutip dari CNN Indonesia, Sabtu (1/4/2023).

Selain mengungkapkan kekecewaan, Ganjar juga berpesan kepada pemain Timnas Indonesia U-20 untuk tetap semangat dengan menganggap bahwa batalnya keikutsertaan Indonesia di Piala Dunia U-20 2023 bukanlah ‘kiamat’.

“Harus tetap semangat terus, ini bukan kiamat. Kita harus tetap, apa namanya, berlatih, dan kita harus membangun sepakbola kita dengan serius, dengan utuh,” kata Ganjar.

“Kita kasih semangat mereka, banyak event yang bisa kita siapkan jauh lebih baik,” imbuhnya.

Sementara itu, Koster juga turut menyampaikan pendapatnya melalui keterangan tertulis pada Kamis (30/3/2023). Melalui keterangannya, Koster berkata bahwa penolakannya terhadap Timnas Israel sebagai wujud tanggung jawabnya sebagai Gubernur Bali.

“Mengenai sikap penolakan saya atas kehadiran tim Israel dalam kejuaraan dunia FIFA U-20 di Bali, merupakan wujud tanggung jawab saya sebagai Gubernur Bali,” kata Koster.

“Yang saya pertanggungjawabkan secara niskala-sakala (sesuatu yang bersifat tidak nyata dan nyata) karena didasarkan pada hal yang prinsip terkait kemanusiaan, sejarah dan tanggung jawab pergaulan antarbangsa, dan aspirasi masyarakat ke FIFA,” pungkas Koster.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*